Ajaran Syekh Siti Jenar 

Perkembangan Ajaran Syekh Siti Jenar tidak lepas dari laku dan dakwahnya yang mengelilingi pulau jawa. Ajaranya berkembang luas sampai ketanah sumatera.

Wali Songo

Agama bagi Syekh Siti Jenar bukanlah teori yang harus dihafal. Agama merupakan sebuah jalan yang harus dilalui menuju yang maha satu. Beliau tidak memikirkan nama agama (dalam bentuk wujud / fisik) tetapi lebih pada kehadiran Islam dalam dirinya. Keberadaan diri itulah yang menjadi bagian dari kesadaran Syekh Siti Jenar.

Perkembangan dan Persebaran Paham Syekh Siti Jenar

Dimulai dari abad kelima dari pedalaman Nusa Jawa, sampailah Syekh Siti Jenar berada di Dukuh Lemah Abang yang terletak di kaki utara Gunung Lawu di Lembah Selatan Bengawan Sori, tetapi Syekh Siti Jenar memutuskan tidak tinggal disana. Ketika sampai di Dukuh Lemah Abang, pengikut menyebut nama baru sesuai dengan nama tempat ia mengajar, yaitu Syekh Siti Jenar yang yang bermakna guru suci dari Dukuh Siti Jenar. Sebelumnya nama Syekh Siti Jenar, beliau dipanggil dengan nama Syekh Jabarantas.

Ketika di Dukuh Siti Jenar yang terpencil itu ia tidak pernah berhenti mengajarkan cara belajar mati, menaklukan setan, dan menjadi manusia yang tanpa memandang seseorang dari derajat maupun pangkatnya. 

Karena Syekh Siti Jenar memiliki kelebihan yang dapat dipelajari dalam waktu singkat, akhirnya beliau menjadi buah bibir penduduk yang ada disekitar dukuh Siti Jenar. Kemudian tersebarlah nama Syekh Siti Jenar dan beribu-ribu orang datang meminta keberkahan, keselamatan dan limpahan kekeramatan kepada seorang guru. Bahkan diantara mereka ada yang mencium tangannya, mencium lututnya, sampai mencium kakinya. Syekh Siti Jenar tidak sadar bahwa ia sebagai manusia yang diberhalakan oleh pengikutnya. Kemudian singkat cerita istrinya menegur dengan keras karena selama berhari hari ia membiarkan para pengikutnya memperlakukan Syekh Siti Jenar tidak semestinya. Syekh Siti Jenar baru sadar kalau diberhalakan oleh pengikutnya. Syekh Siti Jenar dan istrinya mengambil keputusan pergi dari Dukuh Siti Jenar. 

Dalam perjalanannya Syekh Siti Jenar pergi ke Baghdad untuk mencari ilmu, yang pada saat itu masih menjadi pusat ilmu Islam dan kebatinan.  Setelah selesai menuntut ilmu di baghdad Syekh Siti Jenar melanjutkan pengetahuan ilmunya di Makkah. Setelah semuanya selesai Syekh Siti Jenar memiliki hasrat untuk mengadakan perubahan pada masyarakat Islam di Jawa, serta masyarakat keseluruhannya. 

Di wilayah Cirebon Syekh Siti Jenar memulai dakwah Islamnya, lokasinya di bukit Amparan Jati, dan berkolaborasi dengan Syekh Datuk Kahfi. Diwilayah tersebut umat Islam pada saat itu belum siap menerima ajaran Syekh Siti Jenar, karena banyak dari mereka yang baru pindah dari agama Hindu, Buddha, dan Animisme yang imannya pun masih lemah.  Karena itu, akhirnya ajaran Syekh Siti Jenar dianggap meresahkan oleh masyarakat. Kemudian dengan munculnya Islam sebagai agama mayoritas baru, banyak pengikut agama Hindu, Buddha dan Animisme melakukan perlawanan secara sembunyi-sembunyi. Ajaran Syekh Siti Jenar tidak diterima oleh pengikut Hindu, Buddha dan Animisme, kemudian ia meluaskan dakwahnya ke Banten (arah barat), ke Sumatera.

Singkat cerita Syekh Siti Jenar kembali menetap di Cirebon dan diadili oleh dewan Walisongo di bawah keputusan trio-wali yang merupakan pengadilan pertama oleh Sunan Giri, pengadilan kedua dan vonis hukuman mati di bawah kepemimpinan Sunan Bonang dan atas persetujuan Sunan Gunung Jati yang pernah menjadi muridnya.