Media Dakwah Sunan Kalijaga

Kesenian Wayang

Wayang merupakan kesenian Jawa sejak zaman dulu. Tetapi di tangan sunan Kalijaga banyak sentuhan dan polesan dirubah.

Sunan Kalijaga

Dahulu wayang diciptakan dalam bentuk ukiran wayang kulit, dari bentuk manusia. Ditangan Sunan Kalijaga menjadi bentuk kreasi baru yang mirip karikatur. Ada banyak perubahan dari bentuk aslinya seperti orang yang menghadap ke depan diukir dengan letak bahu di depan dan di belakang. Tangan wayang kulit dibuat memanjang hingga menyentuh kakinya. Walaupun menghadap ke depan, matanya dibuat tampak utuh. 

Seni wayang adalah salah satu media yang digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan nilai-nilai luhur ajaran agama Islam. Dalam seni wayang di tangan Sunan Kalijaga memberikan 2 cerita :

  1. Lakon Mahabbrata, yaitu tentang kisah darah Barata atau berisi seputar kehidupan kenegaraan, sosial dan budaya. Mahabbrata ini bercerita tentang kehidupan alam nyata yang diperankan Pandawa. Sedangkan Kisah Ramayana bertemakan cinta dan pengorbanan. 
  2. Lakon Carangan, Kisah cerita yang dibuat para pujangga dan ahli wayang yang berada di tanah Jawa. Tokoh yang dimotori Petruk, Gareng, Semar, Bagong dan Bima Suci. Banyak judul yang telah lahir seperti Petruk Dadi Ratu yang memerankan cerita tersebut adalah Pandawa, Punakawan, Kurawa, Para Dewa.

Kesenian Gong Syarat Makna

Bukan hanya itu, bunyi gamelan juga memiliki peran berdakwah sepert Kenong yang berbunyi “nong, nong, nong” dan saron yang berbunyi “ning, ning, ning” memiliki arti bahasa jawa nongkana dan ningkene (di sana dan di sini). Kempul yang berbunyi “pung, pung, pung” memiliki makna mumpung memiliki waktu dan kesempatan. Kendang yang berbunyi “tak ndang, tak ndang, tak ndang” memiliki makna segeralah datang. Genjur yang berbunyi “nggur” memiliki makna segera njegur (masuk) ke dalam

Karya Sastra Sunan Kalijaga

Kemudian karya sastra Sunan Kalijaga yaitu Suluk Linglung. Dalam sastra Jawa, suluk dimaknai sebagai ajaran atau falsafah untuk mencari hubungan dan persatuan antara kawula dan Gusti. Sedangkan linglung dalam bahasa Jawa yaitu bingung. Bingung disini dimaknai dengan ketidakpastian atau sebagai kumpulan cerita ritual tasawuf Sunan Kalijaga ketika ia tengah mengalami kebingungan dalam mencapai hakikat kehidupan.

Selanjutnya Karya Sunan Kalijaga dalam sejarah, yaitu Pembangunan Masjid Agung di Demak. Sunan Kalijaga sangat berjasa dalam membangun Masjid Agung di Demak, karena di dalam Masjid tersebut ada sebuah tiang utama yang terbuat dari potongan-potongan kayu jati yang disatukan yang langsung di buat oleh Sunan Kalijaga.