Kisah Hidup Sunan Kalijaga
Dalam kebudayaan Jawa atau kalangan spiritual, nama ini tidak asing. Sunan Kalijaga (julukan) yang diberi nama Raden Said atau Jaka Setiya. Beliau adalah tokoh spiritual, sastrawan, budaya dan seni.
Masa Kecil Sunan Kalijaga
Raden Said yang dikenal dengan Sunan Kalijaga adalah putra penguasa Tuban Tumenggung Wilwatikta. Tumenggung Wilwatikta adalah keturunan Ranggalawe yang tinggal di Majapahit pada masa pemerintahan Raden Wijaya. Tumenggung Wilwatikta disebut juga Aria Teja IV, beliau adalah keturunan dari Aria Teja III dan Aria Teja II dan merupakan keturunan dari Aria Teja I, sedangkan Aria Teja I adalah anak dari Aria Adikara atau Ranggalawe. Aria Teja IV yang terakhir merupakan salah satu raja Majapahit.
Sejak kecil, Sunan Kalijaga memang sudah memiliki kelebihan dengan berjiwa luhurnya. Ia adalah seorang laki-laki yang selalu taat pada keimanannya dan berbakti kepada yang lebih tua maupun yang lebih lemah, dengan sifat dan sikap welas asih (kasih sayang). Ia juga sangat solidaritas dengan teman-temannya sejak kecil. Bahkan, dia tidak takut untuk masuk dan berinteraksi dengan orang biasa. Kemudian dia tidak tahan lagi melihat penderitaan orang miskin di wilayahnya.
Nama Lain Sunan Kalijaga
Nama Sunan Kalijaga berasal dari desa Kalijaga (Tuban). Ketika Sunan Kalijaga tinggal di sana, ia memang harus mandi atau duduk lama di tepi sungai. Secara harafiah, nama Kalijaga menunjukkan bahwa Sang Sunan menjaga sungai tersebut. Namun secara simbolis, nama Kalijaga menunjukkan bahwa Sunan selalu memperhatikan semua keyakinan (kepercayaan) yang berlaku di masyarakat.
Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai Syekh Malaya. Nama Syekh Malaya adalah nama panggilan untuk Sunan Kalijaga yang pernah menjadi pendakwah di Malaya. Dalam khazanah makrifat Jawa, nama syekh "Malaya" berasal dari bahasa Jawa. Kata “Melayu” berasal dari kata “ma-laya” yang berarti bunuh diri. Ia mengalami “mati sak jeroning urip, urip sak jeronging pati” arti kata tersebut adalah merasakan kematian dalam hidup ini. Kematian dalam kehidupan mengetahui sifat kehidupan.
Sunan Kalijaga merupakan salah satu murid Sunan Bonang, Sunan Kalijaga lebih banyak menggunakan seni budaya dalam berdakwah. Sunan Kalijaga juga merupakan anggota Wali Songo yang namanya lebih populer dibandingkan anggota Jawa lainnya. Karena kepopulerannya, Sunan Kalijaga tidak lepas dari perananya sebagai mubaligh yang berkeliling dan juga sebagai salah satu Wali yang membantu pembangunan Masjid Agung di Demak. Ia juga merupakan pengembang sastra, seni dan budaya masyarakat Jawa. Tetapi banyak orang tidak tahu tentang ajarannya. Orang biasanya belajar tentang ajarannya melalui nyanyian. Salah satunya adalah lagu "lir-ilir" yang biasa dinyanyikan oleh anak-anak Jawa.
Guru Guru Sunan Kalijaga
Dalam dunia pendidikan, Sunan Kalijaga memiliki banyak guru. Para da'i yang pernah menjadi guru Sunan Kalijaga tidak hanya berasal dari tanah Jawa, tetapi juga dari luar tanah Jawa atau nusantara (dari luar negeri). Beberapa guru yang sangat terkenal dengan Sunan Kalijaga adalah Sunan Bonang, Syekh Sutabris dan Sunan Gunung Jati.
Pada mulanya Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang. Karena Sunan Bonang merupakan guru spiritual pertama dari Sunan Kalijaga atau Raden Said. Dia disuruh tinggal di tepi sungai sampai Sang Sunan Bonang kembali menemuinya. Sehingga Sunan Kalijaga tetap pasrah dalam penjelajahan perjalanan spiritualnya. Bukan hanya belajar teori, tapi mujÄhadah (perjuangan untuk mengalami kebenaran).
Setelah Sunan Kalijaga mengikuti aturan Sunan Bonang, Sunan Bonang memberikan Raden Said gelar Sunan Kalijaga. Sunan Bonang juga mengajarkan Sunan Kalijaga apa itu ilmu "Sangkan paraning dumadi", ilmu yang pada dasarnya menjelaskan peristiwa alam semesta dan asal mula segala sesuatu, perginya arwah dari tubuh mereka, dan sifat hidup dan mati. Sunan Bonang juga mengajari Sunan Kalijaga / Raden Said untuk memberinya ilmu agama dan spiritual.
Setelah berguru kepada Sunan Bonang dirasa cukup, Sunan Bonang berpesan kepada Sunan Kalijaga untuk melanjutkan berguru kepada Syekh Sutabaris di Palembang. Syekh Sutabaris adalah seorang ustadz yang tinggal di Pulau Upih, yang merupakan bagian dari kota Malaka dan terletak di sisi utara. Tetapi dalam perjalanannya Sunan Kalijaga tidak pergi berguru kepada Syekh Sutabaris, melainkan menemani Sunan Bonang berhaji ke Mekkah. Sunan Kalijaga yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah tidak mengikuti Sunan Bonang melainkan mengikuti perintahnya Syekh Sutabaris.
Setelah kembali ketanah mekah beliau (Sunan Kalijaga) yang pada saat masih di Pulau Upih mendapat perintah dari Syekh Maulana Maghribi untuk kembali ke Jawa dan membangun masjid. Singkat cerita Setelah berguru kepada Syekh Sutabaris, Sunan Kalijaga melanjutkan berguru kepada Sunan Gunung Jati. Ternyata Syekh Siti Jenar juga pernah berguru kepada Sunan Gunung Jati. Kemudian Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar itu mendapatkan ilmu Makrifat yang dipelajari selama empat tahun.
Perjalanan Dakwah Sunan Kalijaga
Setelah berguru kepada ketiga gurunya yaitu Sunan Bonang, Syekh Sutabaris dan Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga pergi ke Pasai dan berdakwah ke Patan di Thailand Selatan di Semenanjung Melayu. Dalam hikayat Patan, Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang tabib. Di sana pula ia merawat Raja Patan yang sedang menderita sakit kulit parah hingga sembuh. Sunan Kali atau Raden Said. Setelah belajar di Pasai selama beberapa tahun dan berdakwah di Malaya dan Patan, Sunan Kalijaga kembali ke tanah Jawa. Sesampainya di tanah Jawa, Sunan Kalijaga diangkat sebagai salah satu anggota Wali Songo, sembilan tokoh dan penyebar agama Islam di Jawa. Wali Songo adalah sembilan penguasa daerah pada masa penyebaran Islam di Jawa.
Kegiatan dakwah Sunan Kalijaga tidak terbatas, bahkan sebagai seorang da'i beliau berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Karena dakwahnya yang intelektual, Sunan Kalijaga sangat populer di kalangan bangsawan dan ulama serta masyarakat umum, bahkan para pedagang. Bersama Sunan Kalijaga, Syi'ar Islam juga menggunakan media seni dan budaya Jawa. Sehingga syi'ar Islam yang dilakukannya dapat berjalan dengan efektif dan relatif mudah. Sunan Kalijaga tidak hanya dikenal sebagai seorang pendakwah, penyair atau filosof, tetapi ia juga dikenal sebagai seniman atau budayawan.
Budaya dan kesenian ini merupakan metode penyebaran agama Islam yang diprakarsai oleh Sunan Kalijaga. Kemahiran beliau dalam menciptakan seni suara dan lagu tembang. Salah satu karyanya yaitu tembang macapat Dhandhanggula dan Dhandhanggula Semarangan ataupun seni gamelan (seni musik). Selain itu menciptakan seni gamelan yang berupa gong sekaten dengan nama shahadatain. Selain itu juga beliau menggunakan seni wayang kulit yang bersumber dari kisah Mahabarata. Seni rupa (batik dan ukir) yaitu seni ukir yang dikembangkan berbentuk dedaunan juga tidak lepas dari polesan sunan kalijaga.
Sunan Kalijaga juga mewariskan syair tembang lir-ilir, namun juga serat Dewa Ruci dan Serat Duryat (Suluk Linglung). Sunan Kalijaga berdakwah menggunakan kesenian wayang kulit, di tiap daerah ia mengenalkan dirinya dengan nama yang berbeda-beda, seperti di Jawa Barat ia mengenal dirinya sebagai dalang Ki Sida Brangti. Kalau di daerah Tegal, ia mengenal dirinya sebagai Ki Dalang Bengkok dan di Purbalingga ia mengenal namanya sebagai Ki Dalang Kumendung.
Selanjutnya pesan-pesan agama Islam yang disampaikan oleh Sunan Kalijaga melalui tokoh lakon dalam pewayangan maupun dalam kidung- kidungnya. Dalam pewayangan, melalui tokoh Bima inilah, Sunan Kalijaga menceritakan makna dimensi rohani yang mendalam secara terbuka dalam pagelaran wayangnya, seperti dalam pagelaran lakon Dewa Ruci, yang bertubuh sebesar ibu jari. Saat Bima mencari susuhing angin atau sarang angin, sekalipun tubuh Dewa Ruci hanya sebesar ibu jari, Bima dapat masuk ke dalamnya.
Kemudian dalam kidung, Sunan Kalijaga menyampaikan pesan bahwa agama Islam telah tumbuh dengan suburnya seperti tanaman yang ijo, bahkan saking senangnya sambutan masyarakat Islam, digambarkan rasa senang itu seperti kemanten anyar (penganten baru), seperti dalam kidung Lir-ilir. Pembahasan dalam kidung Lir-Ilir akan diuraikan dalam tema selanjutnya
Tidak ada komentar
Posting Komentar